Kenali Akidahmu

product 1

Kenalilah aqidah ahlussunnah wal jammah mengikuti salaf sholeh yang haq untuk menjaga iman dan islam

Wirdul Latif

product 1

Kumpulan wirid atau bacaan Yang Warid dari baginda nabi s.a.w di namakan Wirdul latif.

Imanul Kamil

product 1

Jawaban atas semua pertanyaan tentang aqidah Aswaja Oleh habib munzir Al-musawa.

AQIDAH ULAMA' EMPAT MADZHAB (ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH)

Aswaja tulen | 10.20 | 11 komentar

1. Imam Abu Hanifah ra. mengatakan bahwa kata Istiwa sudah dipahami. Bahkan Imam Abu Hanifah menolak mereka yang berpahaman Tajsim dan Tasybih sebagaimana tertuang dalam kitab beliau Fiqh al Akbar:

Berkata Imam Abu Hanifah: “Dan kami ( ulama Islam ) mengakui bahawa Allah ta’ala ber-istawa atas Arasy tanpa Dia memerlukan kepada Arasy dan Dia tidak metetap di atas Arasy, Dialah menjaga Arasy dan selain Arasy tanpa memerlukan Arasy, sekiranya dikatakan Allah memerlukan kepada yang lain sudah pasti Dia tidak mampu mencipta Allah ini dan tidak mampu mentadbirnya sepeti juga makhluk-makhluk, kalaulah Allah memerlukan sifat duduk dan bertempat maka sebelum diciptakan Arasy dimanakah Dia? Maha suci Allah dari yang demikian”
Amat jelas di atas bahwa akidah ulama Salaf sebenarnya yang telah dinyatakan oleh Imam Abu Hanifah adalah menafikan sifat bersemayam(duduk) Allah di atas Arasy.
Semoga Mujassimah diberi hidayah sebelum mati dengan mengucap dua kalimah syahadah kembali kepada Islam.

2. Imam Syafi’i
انه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لايجوز عليه التغيير
Artinya: Sesungguhnya Dia Ta’ala ada (dari azali) sementara tempat belum diciptakan, kemudian Allah mencipta tempat dan Dia tetap dengan sifatnya yang azali itu sebagaimana sebelum terciptanya tempat, tidak harus ke atas Allah perubahan. Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin jilid 2 halaman 23
3-Imam Ahmad bin Hanbal :
-استوى كما اخبر لا كما يخطر للبشر
Artinya: Dia (Allah) istawa sebagaimana Dia khabarkan (di dalam al Quran), bukannya seperti yang terlintas di pikiran manusia. Dinuqilkan oleh Imam al-Rifa'i dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, dan juga al-Husoni dalam kitabnya Dafu’ syubh man syabbaha Wa Tamarrad.
وما اشتهر بين جهلة المنسوبين الى هذا الامام المجتهد من أنه -قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه
Artinya: dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini (Ahmad bin Hanbal) bahwa dia ada mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan atas namanya (Imam Ahmad) – Kitab Fatawa Hadisiah karya Ibn Hajar al- Haitami
4- Imam Malik :
الاستواء غير المجهول والكيف غير المعقول والايمان به واجب و السؤال عنه بدعة
Artinya: Kalimah istiwa’ tidak majhul (diketahui dalam al quran) dan kaif (bentuk) tidak diterima aqal, dan iman dengannya wajib, dan bertanya tentangnya bid’ah
Perhatikan : Imam Malik hanya menulis kata istiwa (لاستواء) bukan memberikan makna dhahir jalasa atau duduk atau bersemayam atau bertempat (istiqrar)…..

Category:

Vk bhardwaj: My name is vikas . I'm administrator of Www.BestTheme.Net.This blog was opened for Demo test .

11 komentar

  1. Yang benar adalah : Imam Abu Hanifah (wafat.150H), berkata : "Aapabila ada orang yang mengingkari keberadaan Allah di langit, maka dia telah kafir. [ baca : Muskhtashar al-Uluw oleh Imam adz-Dzahabi (hlm.136), tahqiq Syaikh al-Albani. Syarrah Aqidah Thahawiyah (hlm.386-387), tahqiq dan takhrij Syaikh Syu'aib al-Arnauth dan 'Abdullah 'bin Abdul Muhsin at-Turki.

  2. Tentang Kursy, Allah berfirman :

    “Kursi Allah meliputi langit dan bumi (QS. Al-Baqarah : 255).

    Dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas, radhiyallahu anhu, tentang firman Allah di atas , ia berkata : Ialah tempat meletakan kaki Allah, sedangkan ‘Arsy tidak ada yg mengetahui ukuran besarnya melainkan Allah Azza wa jalla. [ baca : Syarah ‘Aqidah Thahawiyah (hlm.368-369), takhrij syaikh al-Arnauth dan at-Turky.

    Imam ath-Thahawi (wafat.321H), berkata : “Allah tidak membutuhkan ‘Arsy dan apa yang di bawahnya. Allah menguasai segala sesuatu dan apa yg di atasnya . Dan Dia tidak memberikan kemampuan kpd makhluk-Nya untuk mengetahui segala sesuatu.
    Bahwa Allah menciptakan ‘Arsy dan bersemayam di atasnya, bukanlah karena Allah membutuhkan ‘Arsy tetapi Allah mempunyai hikmah tersendiri tentang hal itu. [ baca : Syarah ‘Aqidah Thahawiyah (hlm.372), takhrij syaikh al-Arnauth dan at-Turky.

  3. Imam Ibnu Abi al-‘Izz al-hanafi (ulama syafi’iyah), berkata : “Ketinggian Allah di samping tetap melalui al-Qur’an dan as-sunnah juga tetap pula melalui akal dan fitrah. Adapun tetapnya ketinggian Allah melalui akal dapat di tunujukan dari sifat kesempurnaan Allah. Sedangkan tetap di tunjukan dari sifat kesempurnaan Allah. Sedangkan tetapnya ketinggian Allah secara fitrah, maka perhatikanlah setiap orang berdo’a kepada Allah Azza wa jalla pastilah hatinya mengarah ke atas dan kedu tangannya menengadah, bahkan barangkali pandangannya menuju ke arah yang tinggi. Perkara ini terjadi pada siapa saja, yang besar maupun yang kecil, orang yang berilmu maupun orang yang bodoh, sampai-sampai di dalam sujud pun seseorang mendapat kecenderungan hatinya kea rah itu. Tidak seorang pun dapat memungkiri hal ini, dengan mangatakan bahwa hatinya itu berpaling kea rah kiri dan kanan atau ke bumi.”
    [Diringkas dari Syarah ‘Aqidah Thahawiyah (hlm.389-390), takhrij dan ta’liq Syaikh Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdul Muhsin at-Turki, lihat kitab Manhajul Imam asy-Syafi’i Itsbaatil ‘Aqidah (II/347)]

  4. Kata istawa tidak sepadan dengan bersemayam dalam bahasa indonesia. Sehingga alangkah baiknya kita kembalikan kepada makna Alquran itu sendiri ttg istawa'.

    Inilah keanehan orang2 nu yang menuduh bahwa "salafy wahabi" menyamakan bersemayamnya Allah sama dengan manusia. Padahal tidak seperti itu.
    sebagai orang yang mengikuti manhaj salaf kami berpegang sebagaimana yang di jelaskan pada komentar M. ROSADI didi

  5. Allah ada tanpa tempat

  6. Allah ada tanpa tempat

  7. @Deden Abdulah

    Allah ada tanpa tempat....Apa yg menguatkan pendapat ini?

    Adminnya kabur gak ada kasih klarifikasi apapun

  8. al-Fiqh al-Absath, al-Imam Abu Hanifah menuliskan:

    قُلْتُ: أرَأيْتَ لَوْ قِيْلَ أيْنَ اللهُ؟ يُقَالُ لَهُ: كَانَ اللهُ تَعَالَى وَلاَ مَكَانَ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ، وَكَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَمْ يَكُنْ أيْن وَلاَ خَلْقٌ وَلاَ شَىءٌ، وَهُوَ خَالِقُ كُلّ شَىءٍ.
    “Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu” (Lihat al-Fiqh al-Absath karya al-Imam Abu Hanifah dalam kumpulan risalah-risalahnya dengan tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 20).

  9. Tulisan admin nnya tdk lengkap terkesan ada yg disembuyikan
    Tolong diacreeshookan saja foto asli dari kitabnnya

    yg jelas aqidah imam yg empat berbeda dg Aqidah Imam Asy'ari dlm masalah Sifat ALLAH. Sperti sifat tangan bagi Allah

  10. ini lo maksud imam abu hanifah berkata sperti itu .. tnya n cari di kitab2 muritnya.

    ﻭَﻧُﻘِﺮّ ﺑِﺄﻥّ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻌَﺮْﺵِ ﺍﺳْﺘَﻮَﻯ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺃﻥْ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﻟَﻪُ ﺣَﺎﺟَﺔٌ ﺇﻟﻴْﻪِ ﻭَﺍﺳْﺘِﻘْﺮَﺍﺭٌ ﻋَﻠَﻴْﻪِ، ﻭَﻫُﻮَ ﺣَﺎﻓِﻆُ ﺍﻟﻌَﺮْﺵِ ﻭَﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟﻌَﺮْﺵِ ﻣِﻦْ ﻏَﺒْﺮِ ﺍﺣْﺘِﻴَﺎﺝٍ، ﻓَﻠَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺤْﺘَﺎﺟًﺎ ﻟَﻤَﺎ ﻗَﺪَﺭَ ﻋَﻠَﻰ ﺇﻳْﺠَﺎﺩِ ﺍﻟﻌَﺎﻟَﻢِ ﻭَﺗَﺪْﺑِﻴْﺮِﻩِ ﻛَﺎﻟْﻤَﺨْﻠُﻮﻗِﻴْﻦَ، ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻣُﺤْﺘَﺎﺟًﺎ ﺇﻟَﻰ ﺍﻟﺠُﻠُﻮْﺱِ ﻭَﺍﻟﻘَﺮَﺍﺭِ ﻓَﻘَﺒْﻞَ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟﻌَﺮْﺵِ ﺃﻳْﻦَ ﻛَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪ، ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻦْ ﺫَﻟِﻚَ ﻋُﻠُﻮّﺍ ﻛَﺒِﻴْﺮً

  11. mengingkari ayat istiwa Allah emang kafir.. tp menetapkan Allah bertempat ini yg salah.. yg bs kafir..